Di Tengah Gempuran Media Digital, Riset PRSSNI DIY: 80 Persen Responden Masih Dengarkan Radio

Yogyakarta, Rasilnews – Radio belum kehilangan pendengarnya di tengah derasnya arus media digital. Riset Pengurus Daerah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan sekitar 80 persen responden di DIY masih mendengarkan radio. Namun, cara masyarakat mengakses radio kini semakin beragam, dari siaran terestrial hingga streaming melalui perangkat digital.

Ketua PD PRSSNI DIY, Dr. Umi Mu’af Winingsih, S.Sos., M.Sc., mengatakan hasil riset tersebut menunjukkan radio masih dibutuhkan masyarakat. Menurutnya, tantangan radio bukan semata mempertahankan pendengar, melainkan beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebiasaan konsumsi media.

“Radio tidak akan mati selama radio siap beradaptasi dan bertransformasi sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar Umi.

PRSSNI DIY saat ini menaungi 20 radio swasta anggota. Sementara itu, terdapat sekitar 35 radio di wilayah Yogyakarta secara keseluruhan, meski tidak seluruhnya merupakan anggota PRSSNI DIY dan sebagian sudah tidak lagi aktif bersiaran.

Umi mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan bagi industri radio. PRSSNI DIY mendorong anggotanya mengembangkan digitalisasi program, siaran berbasis internet, pemanfaatan media sosial, hingga radio visual.

Perubahan tersebut juga terlihat dari hasil riset PRSSNI DIY. Pendengar tidak hanya menikmati radio melalui perangkat terestrial, tetapi juga melalui streaming, telepon seluler, komputer, dan platform digital lainnya.

Penguatan kemampuan pelaku industri juga dilakukan melalui pelatihan Marketing Digital dan Radio Visual bagi pimpinan serta tenaga pemasaran radio anggota PRSSNI DIY.

Selain penguatan kapasitas, PRSSNI DIY mengembangkan kolaborasi lintas sektor. Pada September 2026, organisasi tersebut menjalin kemitraan dengan Samira Travel melalui pembukaan kantor Samira Travel Yogyakarta di Sekretariat PRSSNI DIY sebagai bagian dari upaya inovasi dan pengembangan model bisnis.

Umi juga mendorong kolaborasi antar-radio agar industri penyiaran tidak menghadapi disrupsi media secara sendiri-sendiri. Menurutnya, keberagaman karakter Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan pariwisata membuat radio tetap memiliki segmentasi pendengar yang luas.

Program musik, dakwah, berita, sandiwara hingga budaya masih memiliki audiens masing-masing. Radio juga tetap menawarkan fleksibilitas karena dapat didengarkan sambil beraktivitas, baik melalui siaran terestrial maupun streaming.

Menurut Umi, keberlangsungan radio pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan industri beradaptasi dalam perangkat, program, dan sumber daya manusia.

“Ketika radio itu mempersiapkan diri beradaptasi baik secara perangkat, baik secara program, baik secara SDM, maka radio itu tetap menjadi media yang sangat dekat dengan masyarakat dan sangat diminati,” katanya.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *