Rasilnews – Tulisan kolumnis Geisz Chalifah yang dimuat KBA News pada Kamis (18/6/2026) menyoroti perbedaan pendekatan pembangunan yang ditawarkan tokoh nasional Anies Baswedan dibandingkan dengan kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam artikel berjudul “Tokoh Perubahan Anies Baswedan yang Fokus Bangun Jembatan dan Gagas Tumbuhkan 40 Kota”, Geisz menilai terdapat perbedaan mendasar dalam cara memandang persoalan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional. Menurut tulisan yang diterbitkan KBA News tersebut, pemerintah saat ini lebih menitikberatkan penyelesaian masalah kemiskinan dan stunting melalui pendekatan pemenuhan kebutuhan konsumsi, salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, Anies Baswedan disebut lebih menekankan pembangunan infrastruktur dasar, konektivitas wilayah, dan perluasan akses masyarakat sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
Geisz menilai stunting tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan kurangnya asupan makanan pada anak usia sekolah. Ia menyebut kondisi tersebut merupakan akumulasi berbagai faktor yang terjadi sejak masa sebelum kelahiran, mulai dari kesehatan ibu, kualitas gizi selama kehamilan, sanitasi lingkungan, akses air bersih, hingga layanan kesehatan yang memadai.
Menurutnya, pemberian makanan bergizi kepada anak sekolah memang penting, namun langkah tersebut perlu dibarengi dengan upaya menyelesaikan faktor-faktor mendasar yang menjadi penyebab stunting.
Dalam tulisannya, ia juga menyoroti masih adanya sejumlah daerah yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Kondisi itu, kata Geisz, menunjukkan bahwa persoalan konektivitas dan infrastruktur dasar masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia.
Pembangunan Jembatan sebagai Penghubung Kesempatan
Salah satu hal yang disorot dalam tulisan tersebut adalah kegiatan pembangunan dan perbaikan jembatan yang dilakukan Anies Baswedan di sejumlah daerah setelah tidak lagi menjabat sebagai pejabat publik.
Geisz menilai keberadaan jembatan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga menjadi sarana yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai peluang kehidupan. Melalui akses yang lebih baik, warga dapat menjangkau sekolah, fasilitas kesehatan, pusat ekonomi, serta berbagai layanan publik lainnya.
Ia menyebut pembangunan akses dan konektivitas merupakan bagian penting dalam menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Menurut Geisz, pendekatan tersebut berbeda dengan kebijakan yang berfokus pada bantuan langsung atau pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Ia berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan karena memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi dan sosialnya.
Selain menyoroti pembangunan infrastruktur, Geisz juga mengangkat gagasan Anies Baswedan mengenai penguatan kota-kota yang telah berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
Dalam pandangannya, Indonesia tidak kekurangan kota, tetapi membutuhkan lebih banyak pusat pertumbuhan yang mampu menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kualitas layanan publik, dan memperluas pemerataan pembangunan.
Karena itu, menurut Geisz, Anies lebih menekankan pentingnya memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, transportasi, dan layanan publik di kota-kota yang sudah ada. Pendekatan tersebut dinilai sebagai upaya untuk mendorong pemerataan pembangunan tanpa harus bertumpu pada satu pusat pertumbuhan saja.
Ia menyebut gagasan tersebut lahir dari pendekatan yang berorientasi pada efektivitas penyelesaian masalah, dengan mempertimbangkan manfaat jangka panjang, biaya pembangunan, serta dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Tulisan Geisz Chalifah pada akhirnya menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya dapat diukur dari besarnya proyek yang dibangun, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan dan infrastruktur mampu membuka akses, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. Perdebatan mengenai pendekatan pembangunan tersebut menunjukkan adanya berbagai perspektif dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan di Indonesia.