Rabu, 13 Rabiul Awwal 1448 H/ 26 Agustus 2026
Al-Aqsa bukan sekadar sebuah tempat suci yang berada jauh di Palestina. Ia merupakan bagian penting dari sejarah kenabian dan memiliki kedudukan istimewa dalam keyakinan umat Islam. Dari tempat inilah Rasulullah ﷺ menjalani peristiwa Isra dan kemudian melanjutkan perjalanan Mi’raj. Karena itu, kepedulian terhadap Al-Aqsa semestinya tidak berhenti pada rasa sedih ketika menyaksikan penderitaan rakyat Palestina, tetapi diwujudkan dalam gerakan yang bermartabat. Namun, membela Al-Aqsa tidak cukup hanya dengan semangat. Umat Islam membutuhkan keteladanan Rasulullah ﷺ agar perjuangan tetap berada dalam koridor iman, akhlak, keadilan, dan kebijaksanaan.
Rasulullah ﷺ menunjukkan penghormatan yang besar terhadap Baitul Maqdis. Kedekatan spiritual tersebut menegaskan bahwa persoalan Al-Aqsa bukan hanya persoalan geografis atau politik, melainkan bagian dari kesadaran keumatan yang jangan dilupakan. Karena itu, membela Al-Aqsa berarti menjaga amanah sejarah dan keagamaan, sekaligus membela hak manusia untuk hidup bebas, aman, dan bermartabat. Namun, kecintaan kepada Al-Aqsa harus diterjemahkan dengan cara yang mencerminkan akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan bahwa perjuangan harus diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah. Semangat membela kebenaran tidak boleh berubah menjadi ajang mencari popularitas, kepentingan politik pribadi, atau mencari kesempatan dalam kesempitan.
Prinsip yang sangat penting adalah persatuan umat. Nabi Muhammad ﷺ membangun masyarakat Madinah dengan memperkuat ukhuwah dan menyatukan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpecah. Pelajaran ini relevan bagi gerakan solidaritas Al-Aqsa hari ini. Perbedaan organisasi, pilihan politik, latar belakang sosial, dan cara pandang tidak semestinya menjadi alasan untuk saling melemahkan. Ketika perhatian umat terpecah oleh pertengkaran internal, energi yang seharusnya digunakan untuk membela kemanusiaan justru habis untuk saling menyerang. Al-Aqsa semestinya menjadi momentum memperkuat persaudaraan, bukan memperbesar perpecahan.
Teladan Rasulullah ﷺ juga terlihat dalam kemampuan beliau menggunakan strategi yang bijak. Perjalanan dakwah Nabi tidak hanya diwarnai keberanian, tetapi juga perencanaan, diplomasi, negosiasi, dan pertimbangan matang terhadap kondisi umat. Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu contoh bahwa Rasulullah ﷺ bersedia mengambil langkah yang secara sekilas tampak berat demi tujuan yang lebih besar. Dari sini umat belajar bahwa perjuangan bisa melalui jalur diplomasi, advokasi internasional, pendidikan, penguatan ekonomi, bantuan kemanusiaan, dan pembangunan opini publik juga merupakan bagian penting dari ikhtiar membela hak rakyat Palestina.
Dalam konteks kekinian, meneladani Rasulullah ﷺ dapat dimulai melalui penguatan spiritualitas umat. Doa untuk Palestina perlu terus hidup di masjid, majelis ilmu, rumah, sekolah, kampus, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat. Tetapi doa harus berjalan bersama ikhtiar. Umat perlu meningkatkan literasi tentang sejarah Al-Aqsa, memahami persoalan Palestina secara objektif, melawan disinformasi propaganda Zionis dan sekutunya, serta menyebarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Generasi muda khususnya perlu dibekali pengetahuan agar kepeduliannya tidak mudah diarahkan oleh propaganda maupun informasi yang tidak terverifikasi.
Solidaritas juga perlu diwujudkan dalam kerja kemanusiaan yang nyata. Bantuan kepada korban perang, dukungan kepada lembaga kemanusiaan yang kredibel, kampanye kesadaran publik melalui berbagai media, serta diplomasi masyarakat sipil merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. Di tingkat yang lebih luas, pemerintah dan lembaga-lembaga umat memiliki ruang untuk memperkuat diplomasi internasional dan mendorong penghormatan terhadap hukum internasional serta hak-hak rakyat Palestina. Gerakan yang besar tidak harus selalu dimulai dengan tindakan besar; ia dapat tumbuh dari konsistensi jutaan orang dalam melakukan kebaikan.
Perlu diingat, membebaskan Al-Aqsa bukan hanya persoalan bagaimana umat berbicara tentang Palestina, tetapi bagaimana umat membentuk karakter yang mencerminkan Rasulullah ﷺ. Kita perlu membebaskan diri dari apatisme, kebodohan, perpecahan, fanatisme sempit, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama. Yang saat ini, sepertinya makin menggejala di tengah umat Islam. Dari rumah, kita dapat mengajarkan anak-anak mencintai Al-Aqsa. Dari masjid, kita dapat menghidupkan doa dan edukasi. Dari kampus dan media, kita dapat menyebarkan pengetahuan dan membangun litrasi. Dari ruang diplomasi dan organisasi, kita dapat memperjuangkan keadilan. Dari aktivitas ekonomi, kita dapat memperkuat kemandirian umat.
Karena itu, gerakan membebaskan Al-Aqsa harus menjadi gerakan yang panjang, sabar, terukur, dan berakhlak. Jangan biarkan kecintaan kepada Al-Aqsa berhenti sebagai slogan atau kemarahan sesaat ketika berita tentang Palestina memenuhi ruang publik. Jadikan ia sebagai energi untuk memperbaiki diri, memperkuat persatuan, membantu sesama, memperjuangkan keadilan, dan membangun generasi yang memiliki kepedulian global. Rasulullah ﷺ telah meninggalkan teladan bagaimana kebenaran diperjuangkan dengan keteguhan sekaligus kasih sayang. Jika umat mampu menapaki jalan itu, maka solidaritas terhadap Al-Aqsa tidak hanya menjadi ungkapan cinta, tetapi berubah menjadi amal nyata yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Wallahu ‘Alam bishawab